| |
Peat Project in Indonesia
Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia (CCFPI)
Program CCFPI di Kalimantan meliputi beberapa program yaitu: Manajemen untuk proteksi kawasan konservasi Sebangau, kegiatan restorasi Kanal 1 juta hektar dalam bentuk restorasi hidrologi (blocking canal), kegiatan pengembangan ekonomi di kawasan ekosistem air hitam, dan small grant activities dalam rangka membantu perekonomian masyarakat berbasis konservasi. Pendanaan program CCFPI Kalteng difasilitasi oleh Pemerintah Canada melalui CIDA dan diimplementasikan oleh Wetlands International-Indonesia Programme bekerjasama dengan Wildlife Habitat Canada. Kegiatan program CCFPI di Kalteng berlangsung selama 3 tahun, dimulai sejak tahun 2002 hingga 2005.
APAKAH CCFPI ITU ?
PENDAHULUAN
Lahan gambut memiliki luas 3% dari seluruh luas permukaan bumi dan mengandung 20 – 35% karbon biosfer terestrial/tanah (IGBP/ Wetlands International ). Gambut mendukung keanekaragaman jenis yang tinggi, dimana beberapa diantaranya bersifat unik pada ekosistem tersebut. Degradasi lahan gambut akan mengacu kepada emisi karbon dalam jumlah besar. Sebagai contoh, selama terjadinya kebakaran di Indonesia pada tahun 1997, diperkirakan antara 0,81 hingga 2,57 Gigaton karbon dilepaskan ke atmosfir akibat terbakarnya lahan dan hutan gambut beserta vegetasi diatasnya. Jumlah tersebut setara dengan 13 – 40% dari rata-rata emisi karbon global tahunan yang berasal dari bahan bakar fosil. 1
Sejak Agustus 2001 Wetlands International – Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada serta beberapa mitra kerja telah melaksanakan kegiatan Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia (CCFPI). Proyek yang akan berjalan hingga Maret 2005 tersebut, melibatkan berbagai pelaku di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan serta di instansi pemerintah tingkat nasional.
Proyek ini didanai oleh Canadian Climate Change Development Fund, dengan tambahan dana dari Global Environment Facility – GEF (melalui Proyek Integrated Management of Peatlands for Biodiversity and Climate Change yang dikoordinasikan oleh Wetlands International dan Global Environment Centre) serta dari Global Peat Initiative.
TUJUAN PROYEK
Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan dua areal lahan gambut di Indonesia serta meningkatkan kapasitas nasional untuk berpartisipasi dalam meningkatkan inisiatif dibidang mitigasi perubahan iklim guna mempromosikan pendapatan masyarakat yang berkelanjutan serta terjaganya penyerapan dan penyimpanan karbon.
KOMPONEN DAN KEGIATAN
Dalam melaksanakan kegiatannya, Proyek terbagi menjadi beberapa komponen :
Komponen Satu dan Dua: Kalimantan Tengah dan Sumatera
Praktek pendekatan pengelolaan hutan dan lahan gambut berbasis masyarakat
- Proyek percontohan di beberapa lahan gambut yang berada dibawah sistem pengelolaan yang berbeda, termasuk areal lindung, areal yang dikelola oleh masyarakat, sebagian dari areal bekas Pengembangan Lahan Gambut, serta di kawasan Taman Nasional
- Beberapa kegiatan yang bersifat indikatif, termasuk pengembangan pilihan-pilihan untuk alternatif mata pencaharian masyarakat yang bergantung kepada keberadaan lahan gambut, restorasi hidrologi untuk mempertahankan kapasitas penyimpanan air dan jasa lingkungan penting lainnya, serta penanaman di areal lahan gambut yang telah mengalami degradasi
- Pelatihan dan penyuluhan
Komponen Tiga: Komponen Teknis
- Pengembangan metoda pengukuran karbon di lahan gambut yang memungkinkan adanya keikutsertaan yang memadai dari masyarakat setempat, dan jika memungkinkan kemudian bisa memenuhi standar pengurangan kadar emisi yang dapat diverifikasi
- Publikasi material pelatihan dalam Bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk menyebarkan metoda pengukuran karbon
- Kompilasi praktek-praktek pengelolaan lahan gambut
- Pembuatan bahan-bahan penyuluhan yang terkait dengan praktek pengelolaan lahan gambut yang dapat digunakan dilingkup proyek maupun pada lingkup yang lebih luas
Komponen Empat: Pemaduan pengelolaan lahan gambut berbasis masyarakat kedalam kebijakan perubahan iklim secara nasional
- Kompilasi informasi mengenai cakupan dan status sumber daya gambut di Indonesia, dan perkiraan jumlah karbon yang terkandung didalamnya
- Penyuluhan mengenai pentingnya lahan gambut bagi keperluan mitigasi perubahan iklim
- Mendukung keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kegiatan di ASEAN dan secara global yang terkait dengan lahan gambut dan perubahan iklim
Komponen Lima: Mekanisme kemitraan dan keberlanjutan
- Penyiapan pangkalan data mengenai mekanisme pendanaan inisiatif-inisiatif yang terkait dengan perubahan iklim di lingkungan gambut
- Pengembangan kapasitas yang memungkinkan para pihak di Indonesia dapat terlibat dalam berbagai inisiatif yang terkait dengan perubahan iklim, baik yang telah ada maupun yang akan datang
- Pengumpulan dan penyebaran berbagai informasi dan pelajaran serta mempromosikan bahan-bahan penyuluhan kepada para pihak penting
KEMAJUAN HINGGA SAAT INI
Lahan Bekas PLG, Kalimantan Tengah
Penyekatan Saluran Primer Induk (SPI) di lokasi lahan bekas PLG dimulai pada bulan Februari 2004, setelah melalui pemilihan lokasi yang dilaksanakan secara terpadu serta berbagai proses konsultasi dengan para pemangku kepentingan. Dukungan dari Pemerintah Daerah untuk kegiatan ini kami peroleh sangat kuat.
Setelah bertahun-tahun berlalu tanpa ada kegiatan, apa yang kami kerjakan nampaknya merupakan suatu kegiatan yang menyentuh berbagai kerusakan ekologis yang disebabkan oleh kegiatan Proyek PLG. Kegiatan CCFPI nampaknya menemukan momentum yang sangat tepat ditengah ketidakpastian mengenai mekanisme apa yang harus dilakukan untuk melakukan program rehabilitasi dan restorasi di kawasan tersebut. Sejauh ini, telah sangat banyak studi dan lokakarya yang diadakan untuk menentukan langkah apa yang paling tepat untuk dilakukan. Adanya ketidakpastian mengenai siapa yang paling bertanggung jawab untuk mengelola areal tersebut serta tingginya biaya untuk melakukan kegiatan restorasi dan rehabilitasi, nampaknya merupakan dua sebab utama mengapa tak kunjung ada kegiatan di areal tersebut.
Melalui berbagai intervensi praktis, melakukan pendekatan demonstrasi penutupan saluran menggunakan teknologi yang sederhana dengan menggunakan bahan serta tenaga kerja lokal, serta pada saat yang sama memadukannya dengan kegiatan penanaman kembali, Proyek CCFPI telah menambahkan elemen penting terhadap desain untuk berbagai perencanaan kedepan. Nampaknya, hal utama yang menarik perhatian Pemerintah Daerah setempat adalah bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh Proyek CCFPI yang lebih berorientasi kepada pekerjaan di lapangan serta melibatkan masyarakat lokal. Pemerintah Daerah telah memberikan dukungan penuh dan mendesak untuk melanjutkan dan memperluas cakupan kerja Proyek CCFPI di wilayah mereka.
Taman Nasional Berbak, Jambi
Selama pelaksanaan kegiatan Proyek CCFPI terus menerus dilaksanakan berbagai peningkatan hubungan baik antara staf Taman Nasional Berbak di Jambi dengan masyarakat di sekitar Taman Nasional. Salah satu kegiatan yang dirancang untuk dilaksanakan bersama oleh kedua pihak tersebut adalah kegiatan bersama untuk merehabilitasi gerbang masuk Taman Nasional di Air Hitam Dalam. Hal ini telah terbukti sangat efektif.
Pada masa sebelumnya, hubungan antara Taman Nasional dan masyarakat sekitar Taman Nasional, karena berbagai sebab, dirasakan kurang harmonis. Pada saat ini, setidaknya hubungan baik diantara mereka sudah mulai terwujud dan berkembang. Anggota masyarakat telah melakukan kegiatan penanaman pohon tepat di belakang pos jaga. Jagawana mengatakan bahwa mereka merasa lebih nyaman dan aman untuk tinggal di pos jaga karena masyarakat juga turut serta beraktifitas di sekitar fasilitas Taman Nasional. Kini, sangat sedikit atau bahkan tak ada lagi masyarakat yang berdemonstrasi ke pos jaga Taman Nasional.
Pos Jaga saat ini digunakan untuk memantau dan menangani berbagai kegiatan ilegal di wilayah tersebut, dimana sebelumnya wilayah tersebut dijadikan sebagai lokasi keluarnya kayu curian dari dalam kawasan Taman Nasional. Dengan kehadiran para Jagawana, adanya batas yang jelas serta adanya penghalang fisik telah menghentikan lalu lintas kayu curian melalui wilayah tersebut.
Pada bulan Oktober 2004, berbagai fasilitas Taman Nasional yang telah diperbaiki tersebut telah diresmikan dalam sebuah acara yang dihadiri oleh aparat Pemerintah, petugas Taman Nasional serta masyarakat sekitar Taman Nasional. Kehadiran berbagai pihak dalam acara peresmian tersebut telah memberikan nuansa positif dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Daerah menunjukan dukungan kuat untuk menciptakan kemitraan antara Taman Nasional dengan masyarakat lokal.
Sebagai tambahan, petugas lapangan kami di Sungai Rambut melaporkan indikasi berkurangnya masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pencurian kayu. Masyarakat lokal juga menyatakan hal yang sama. Mereka mengatakan bahwa jika ada alternatif mata penghidupan lainnya, maka mereka akan lebih memilih alternatif tersebut dibandingkan dengan terlibat dalam kegiatan pencurian kayu, yang tidak hanya berbahaya tetapi juga sebenarnya tidak terlalu menguntungkan secara ekonomi.
Sumatera Selatan : Rencana aksi untuk Hutan Rawa Gambut Merang
Kepahiyang
Draft rencana aksi untuk Hutan Rawa Gambut Merang Kepahiyang telah diberikan dukungan oleh para pemangku kepentingan pada bulan Februari 2004. Pada surat dukungannya, Bupati telah menginstruksikan Dinas terkait untuk memasukan berbagai kegiatan yang telah direncanakan kedalam rencana pembiayaan melalui APBD 2005. Beberapa Dinas malahan telah setuju untuk membiayai beberapa kegiatan melalui anggaran tahun 2004.
Dukungan dari Pemerintah Daerah tersebut kami anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan penting. Lahan gambut di wilayah tersebut telah memberikan berbagai dukungan jasa lingkungan yang penting. Tidak hanya karena gambut tersebut menyimpan sejumlah besar cadangan karbon, tetapi juga merupakan wilayah tangkapan air bagi beberapa sungai yang melintas melalui Taman Nasional Berbak maupun Taman Nasional Sembilang. Kerusakan lebih jauh dari wilayah ini akan menimbulkan kerusakan hidrologis yang parah di Taman Nasional Berbak.
Suatu rencana tata ruang baru untuk wilayah tersebut saat ini sedang disiapkan untuk kawasan hutan rawa gambut Merang Kepahyang, guna menyikapi berbagai tekanan yang menginginkan adanya peruntukan lahan bagi berbagai kegiatan yang tidak berkelanjutan dan dapat mengancam areal lahan gambut yang sensitif tersebut. Dalam beberapa bulan kedepan, Proyek CCFPI akan meneruskan dukungannya pada proses pengembangan rencana tata ruang dan pengelolaan di wilayah tersebut, dengan sasaran akhir utama untuk meyakinkan bahwa berbagai kegiatan dan rencana yang ada kemudian dapat mendukung integritas pelestarian kawasan hutan rawa gambut Merang Kepahyang.
Wilayah sepanjang Sungai Merang dipenuhi oleh setidaknya 140 buah parit yang digunakan untuk mengeluarkan kayu curian. Pada bulan Juli 2004, Proyek CCFPI melaksanakan kegiatan demonstrasi penyekatan 4 buah parit tersebut, dengan tujuan untuk mengurangi aliran air yang keluar dari wilayah tersebut selama musim kemarau dan dengan demikian mengurangi resiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Pada bulan Oktober, sebagian besar dari sekat tersebut ternyata telah dirusak, besar kemungkinan oleh para pencuri kayu.
Untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di lokasi tersebut, maka diperlukan adanya kegiatan penyadartahuan yang lebih intensif, dipadukan dengan kegiatan penegakan hukum. Pada kisaran waktu yang tersisa, Proyek CCFPI akan bekejasama dengan Pemerintah Daerah untuk mencoba melaksanakan strategi tersebut.
Sebagai tambahan, Proyek CCFPI juga akan melakukan dua penyekatan tambahan secara permanen. Sekat-sekat tersebut ditujukan sebagai contoh bagi masyarakat serta Pemerintah Daerah setempat. Pembangunan sekat tersebut akan dilaksanakan bekerjasama dengan masyarakat lokal.
Kebijakan Internasional dan Nasional serta Kerangka Kerja Pelaksanaannya
Proyek CCFPI telah menunjukan hasil yang kuat sehubungan dengan pemaduan pertimbangan perubahan iklim dan keanekaragaman hayati kedalam kebijakan internasional dan kerangka kerja pelaksanaannya. Dua pernyataan berikut ini telah diadopsi oleh Konferensi para pihak Convention on Biological Diversity dan dirasa sangat signifikan. Konferensi para pihak:
Mencatat bahwa Konferensi para Pihak dari Konvensi Ramsar, pada pertemuan kedelapan telah mengadopsi resolusi VIII/3 mengenai perubahan iklim dan lahan basah, dimana, inter alia, menghimbau negara-negara terkait untuk mengambil langkah untuk meminimalisasi degradasi sekaligus mempromosikan restorasi lahan gambutnya serta tipe lahan basah lainnya yang menyimpan gambut secara signifikan atau memiliki kemampuan untuk menangkap karbon dan mendukung permintaan para Pihak kepada Konvensi Ramsar yang ditujukan kepada Panel Antar Pemerintah dibidang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change – IPCC) untuk mempersiapkan kertas kerja teknis mengenai hubungan antara lahan basah dan perubahan iklim.
Menyambut baik usulan pengkajian mengenai keanekaragaman hayati lahan gambut dan perubahan iklim yang sedang dilaksanakan oleh Wetlands International dan Global Environment Centre dengan dukungan dari UNEP-GEF, Pemerintah Kanada, Pemerintah Belanda dan lainnya dan mendorong keterlibatan para Pihak dalam pengkajian tersebut serta dalam berbagai persiapan untuk dipertimbangkan temuan-temuannya oleh SBSTTA menjelang pertemuan para Pihak (COP) 9.
Pernyataan tersebut menyoroti hubungan penting antara lahan gambut (lahan basah), keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Pernyataan kedua agak kurang lazim dalam pengertian bahwa pernyataan tersebut menyebutkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan bahkan mendorong para Pihak untuk dapat memberikan laporan melalui suatu mekanisme yang dipimpin oleh LSM. Dipertimbangkannya lahan gambut, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim di tingkat global adalah merupakan bagian dari pendekatan strategis Proyek CCFPI, dimana ditekankan perlunya pengenalan fungsi lingkungan pada tingkat kabupaten, nasional dan internasional, sehingga berbagai kegiatan yang dilakukan di lapangan kemudian memperoleh dukungan dari kerangka kerja perubahan iklim. Dilain pihak, pengalaman di tingkat lokal juga dapat mempertajam berbagai penentuan kebijakan.
Kesuksesan keikutsertaan dalam beberapa pertemuan/konferensi berikut ini telah menyoroti berbagai kegiatan proyek dan kepentingannya bagi keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan hutan rawa gambut (termasuk konservasi dan rehabilitasi): the Subsidiary Body on Science, Technological and Technical Advice to the Convention on Biological Diversity (CBD SBSTTA), Konferensi para Pihak ke-9 dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC CoP 9), dan Konferensi para Pihak ke-7 Convention of Biological Diversity (CBD CoP 7).
Proyek CCFPI juga telah membantu penulisan dan penerbitan 3 buah buku seri perubahan iklim dalam Bahasa Indonesia. Buku-buku tersebut, yang dipublikasikan pada bulan Juni 2003, telah mengisi kekosongan mengenai perlunya material sejenis dalam Bahasa Indonesia. Dengan menggunakan buku tersebut, pihak Proyek telah aktif turut serta dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan dukungan untuk ratifikasi Protokol Kyoto, termasuk dengar pendapat dengan DPR serta mengadakan beberapa pertemuan/seminar untuk umum.
Atas permintaan dari Kementerian Lingkungan Hidup serta untuk meningkatkan kesadartahuan mengenai kepentingan lahan gambut dalam menyimpan karbon, Proyek telah membantu penulisan dan penyusunan dua buah atlas mengenai status, sebaran, kandungan karbon dan perubahan lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan. Studi tersebut akan memberikan pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk studi lebih lanjut yang lebih rinci.
ANGGARAN
The Canadian Climate Change Development Fund yang merupakan bagian dari the Canadian International Development Agency telah menyetujui untuk memberikan dana pelaksanaan kegiatan sebesar $3,900,000 Cdn. Dana tambahan sebesar $200.000 diberikan oleh The Global Environment Facility dan the Global Peat Initiative.
1 Page, Susan; Siegert, Florian; Rieley, J.; Boehm, Hans Dieter; Jaya, Adi; Limin, Suwido. Nature. Vol. 420, 7 November 2004. pp 61-65.
Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan menghubungi:
|
Jill Heyde
Project Manager
Wildlife Habitat Canada
Suite 310-1750 Courtwood Cress.
Ottawa, ON, K2C 2B5, Canada
Tel: +1 613 722 2090
Fax: +1 613 722 3318
e-mail: jheyde@whc.org
|
Yus Rusila Noor
Project Coordinator
Wetlands International-Indonesia Programme
Jl. A. Yani No. 53 Bogor
PO. Box 254/BPP-Bogor 16002
Tel: +62 251 312 189
Fax: +62 251 325 755
e-mail: co_ccfpi@wetlands.or.id |
Ed B. Wiken
Director, Science and Policy
Wildlife Habitat Canada
Suite 310-1750 Courtwood Cress.
Ottawa, ON, K2C 2B5, Canada
Tel: +1 613 722 2090
Fax: +1 613 722 3318
e-mail: ewiken@whc.org |
Faizal Parish
Director Global Environment Centre
2nd Floor, Wisma Hing 78
Jalan SS2/72, 47300 Petaling Jaya
Selangor, Malaysia
Tel: +60 3 7957 2007
Fax: +60 3 7957 7003
e-mail: fparish@genet.po.my |
|
|